Megahnya Pinisi yang Mendunia
Empat buah kapal Pinisi dengan
ukuran yang cukup besar berderet rapi di tepi pantai Panrang Luhu sore itu
(04/03/2013). Kapal-kapal
tersebut
ini belum siap
digunakan. Pengerjaannya sementara berlangsung alias masih setengah jadi. Para
pekerja berlalu-lalang di sana membawa alat-alat pertukangan. Suara mesin pemotong
kayu menderu-deru memekakkan telinga.
Saya memandangai
kapal-kapal itu dengan takjub. Alangkah megahnya! Satu buah di antaranya memiliki ukuran paling besar, dengan 3 lantai. Sedangkan 3 yang
lainnya lebih kecil dengan ukuran yang hampir sama besar satu sama lain dengan
2 lantai.
Ketiga kapal itu milik orang
asing. Tak ada satu pun yang dimiliki oleh orang Indonesia sendiri. Kapal yang
paling besar serta 2 kapal yang lebih kecil dimiliki oleh 3 orang berkebangsaan
Prancis, dan salah satunya lagi dimiliki seorang Australia.
Mereka membeli dengan harga
selangit. Jusdi (40 tahun) salah seorang pekerja di tempat itu mengatakan,
kapal yang paling besar, milik orang Prancis, dibeli seharga Rp 7 miliar. “Saya tidak tahu harga yang lebih kecil,
tapi yang dibeli orang Australia harganya Rp 2 miliar,” ungkapnya. Bagi dia,
mengerjakan kapal-kapal untuk orang-orang asing ini memberikan kebanggan
tersendiri.
Jusdi mengatakan ia sudah
sering membuat kapal Pinisi dengan ukuran besar. Semuanya untuk orang-orang asing dari luar negeri. Paling banyak dari
Eropa, dia mengatakan. “Kalau pengusaha dari Indonesia sendiri, boleh dibilang
kami tidak pernah menerima pesanan,” katanya.
Di Kabupaten Bulukumba, khususnya
di daerah pesisir, kemampuan merakit Kapal Pinisi adalah keahlian yang telah diturunkan turun-temurun oleh
nenek moyang mereka yang
dulu terkenal sebagai pelaut ulung. Kapal Pinisi dikenal dunia karena
keberhasilannya mengantarkan nenek moyang orang Bulukumba berlayar mengitari bola bumi. Tak heran
jika banyak orang asing yang berminat memiliki kapal jenis ini. Mereka pun
bersedia membayar dengan harga tinggi.
Salah satu hal unik yang
dimiliki Pinisi terletak pada proses pembuatannya. Jika kapal kebanyakan
terutama yang dibuat oleh bangsa-bangsa Barat dimulai dengan membuat rangka,
pada Pinisi, proses pembuatan dimulai dari dari dindingnya.
Keunikan lainnya
adalah, kapal ini sama sekali tidak menggunakan bahan besi. Semua bahannya,
bahkan pasak yang digunakan, terbuat dari kayu. Jenis kayu yang digunakan
adalah kayu bitti. Meski keseluruhan bagiannya terbuat dari kayu, Kapal Pinisi
terkenal tangguh menghadapi gelombang laut. Pembeli biasanya menggunakan Pinisi
sebagai kapal pesiar dan ada juga yang memanfaatkannya sebagai kapal pengangkut
barang.
Kepada salah pekerja itu, saya
meminta izin untuk memotret. Ia mengizinkan saya memotret kapal-kapal kecil
tapi tidak untuk kapal yang paling besar. Katanya, pemilik kapal besar itu
melarang siapa pun memotret tanpa izin. Jusdi menunjukkan saya sebuah pondok
tak jauh dari tempat pembuatan kapal. “Di sana pemiliknya tinggal,” katanya. Saya
menuju pondok itu dengan harapan bisa mendapatkan izin memotret dari sang
pemilik. Namun ternyata di pondok itu yang tinggal hanya seorang pembantu.
Menurut informasi yang ia berikan, sang pemilik kapal sedang ke kota sejak pagi
tadi dan baru akan pulang malam nanti. Apa boleh buat, saya harus puas dengan
memotret yang kecil saja.
Para pekerja itu memasang
tampang lucu ketika saya mengarahkan lensa kamera ke arah mereka. Beberapa di
antaranya sengaja bergaya di depan saya. Saya memotret untuk menyenangkan hati
mereka.