Breaking News
Loading...
May 30, 2015

Megahnya Pinisi yang Mendunia

Perahu Pinisi di Bulukumba

Empat buah kapal Pinisi dengan ukuran yang cukup besar berderet rapi di tepi pantai Panrang Luhu sore itu (04/03/2013). Kapal-kapal tersebut ini belum siap digunakan. Pengerjaannya sementara berlangsung alias masih setengah jadi. Para pekerja berlalu-lalang di sana membawa alat-alat pertukangan. Suara mesin pemotong kayu menderu-deru memekakkan telinga.
Saya memandangai kapal-kapal itu dengan takjub. Alangkah megahnya! Satu buah di antaranya memiliki ukuran paling besar, dengan 3 lantai. Sedangkan 3 yang lainnya lebih kecil dengan ukuran yang hampir sama besar satu sama lain dengan 2 lantai.
Ketiga kapal itu milik orang asing. Tak ada satu pun yang dimiliki oleh orang Indonesia sendiri. Kapal yang paling besar serta 2 kapal yang lebih kecil dimiliki oleh 3 orang berkebangsaan Prancis, dan salah satunya lagi dimiliki seorang Australia.
Mereka membeli dengan harga selangit. Jusdi (40 tahun) salah seorang pekerja di tempat itu mengatakan, kapal yang paling besar, milik orang Prancis, dibeli seharga Rp 7 miliar. “Saya tidak tahu harga yang lebih kecil, tapi yang dibeli orang Australia harganya Rp 2 miliar,” ungkapnya. Bagi dia, mengerjakan kapal-kapal untuk orang-orang asing ini memberikan kebanggan tersendiri.
Jusdi mengatakan ia sudah sering membuat kapal Pinisi dengan ukuran besar. Semuanya untuk orang-orang asing dari luar negeri. Paling banyak dari Eropa, dia mengatakan. “Kalau pengusaha dari Indonesia sendiri, boleh dibilang kami tidak pernah menerima pesanan,” katanya.
Di Kabupaten Bulukumba, khususnya di daerah pesisir, kemampuan merakit Kapal Pinisi adalah keahlian yang telah diturunkan turun-temurun oleh nenek moyang mereka yang dulu terkenal sebagai pelaut ulung. Kapal Pinisi dikenal dunia karena keberhasilannya mengantarkan nenek moyang orang Bulukumba berlayar mengitari bola bumi. Tak heran jika banyak orang asing yang berminat memiliki kapal jenis ini. Mereka pun bersedia membayar dengan harga tinggi.
Salah satu hal unik yang dimiliki Pinisi terletak pada proses pembuatannya. Jika kapal kebanyakan terutama yang dibuat oleh bangsa-bangsa Barat dimulai dengan membuat rangka, pada Pinisi, proses pembuatan dimulai dari dari dindingnya.
Keunikan lainnya adalah, kapal ini sama sekali tidak menggunakan bahan besi. Semua bahannya, bahkan pasak yang digunakan, terbuat dari kayu. Jenis kayu yang digunakan adalah kayu bitti. Meski keseluruhan bagiannya terbuat dari kayu, Kapal Pinisi terkenal tangguh menghadapi gelombang laut. Pembeli biasanya menggunakan Pinisi sebagai kapal pesiar dan ada juga yang memanfaatkannya sebagai kapal pengangkut barang.
Kepada salah pekerja itu, saya meminta izin untuk memotret. Ia mengizinkan saya memotret kapal-kapal kecil tapi tidak untuk kapal yang paling besar. Katanya, pemilik kapal besar itu melarang siapa pun memotret tanpa izin. Jusdi menunjukkan saya sebuah pondok tak jauh dari tempat pembuatan kapal. “Di sana pemiliknya tinggal,” katanya. Saya menuju pondok itu dengan harapan bisa mendapatkan izin memotret dari sang pemilik. Namun ternyata di pondok itu yang tinggal hanya seorang pembantu. Menurut informasi yang ia berikan, sang pemilik kapal sedang ke kota sejak pagi tadi dan baru akan pulang malam nanti. Apa boleh buat, saya harus puas dengan memotret yang kecil saja.
Para pekerja itu memasang tampang lucu ketika saya mengarahkan lensa kamera ke arah mereka. Beberapa di antaranya sengaja bergaya di depan saya. Saya memotret untuk menyenangkan hati mereka. 

Disqus Shortname

Comments system

Back To Top