Breaking News
Loading...
Feb 24, 2016

Ilan Batu, Gua Pernikahan


Ilan Batu


Gua Ilan Batu terletak di gunung Buntu Sikuku, Kampung Ilan Batu-Ilan Baturu, Desa Ilan Batu, Kecamatan Walenrang Barat. Ketinggiannya 274 meter di atas permukaan laut, berbatasan dengan Sungai Lamasi di sebelah utara, perbukitan karst di sebelah selatan, Kampung Ilan Batu di sebelah timur, dan dengan Kampung Lewandi di sebelah barat. Jika terus menyusuri jalan pengerasan yang ada di depan gua, kita akan sampai di Toraja.
Untuk mencapai lokasi ini, harus menempuh medan yang sedikit terjal dan berbatu-batu. Namun akses transportasi yang belum terlalu baik tidak menghalangi para pengunjung untuk mendatanginya. Dari jalan penghubung antar kampung, pengunjung langsung berhadapan dengan sekitar dua ratusan anak tangga yang harus didaki. Pengunjung dipermudah oleh pegangan besi yang cukup tinggi sehingga tidak terlalu merasa kelelahan. Menjelang pintu gua, ada satu gazebo yang dapat digunakan untuk beristirahat. Mulut gua yang lebarnya sekitar empat setengah meter menghadap ke arah timur laut.
Ilan Batu berasal dari kata ilalan batu, artinya di dalam batu. To berarti orang. Tolanbatu berarti orang yang tinggal di dalam gua. Dahulu, orang-orang gua selalu menikahkan anak-anak atau cucunya di sana. Waktu mereka keluar gua dan membuat rumah, mereka merasa tidak senang jika tidak menikahkan keturunannya di dalam gua itu. Maka gua Ilan Batu disebut juga sebagai loko pakaparan karena digunakan menjadi semacam balai nikah bagi orang-orang jaman dahulu.
Bagian dalam gua berupa ruang yang sangat besar dengan lorong yang panjang. Ruang gua dengan tinggi 17 meter dan lebar 16,2 meter ini dihiasi ornamen serta di bagian langit-langit sebelah timur dipenuhi oleh kelelawar. Kondisi tanah dalam gua cukup gembur bercampur dengan kotoran kelelawar dan licin akibat air yang menetes dari langit-langit. 
Di dalam gua ini memang tidak terlihat temuan peti jenazah ataupun tengkorak seperti yang ada di gua lain. Namun temuan beberapa batu yang diduga kuat sebagai alat serpih menjadi petunjuk bahwa gua ini umur huniannya lebih tua daripada Liang Andulan. Tinggalan arkeologis yang ditemukan tidak sama dengan temuan pada beberapa gua lain yang ada di daerah Luwu. Di gua ini ditemukan  tumpukan kerikil dan artefak batu, moluska atau kerang dan beberapa pecahan gerabah.
Beberapa meter sebelum mencapai Ilan Batu, terdapat cerukan memanjang pada dinding tebing. Bagian bawah ceruk merupakan lokasi satu-satunya yang bisa dijangkau tanpa menggunakan alat, itupun harus dipanjat melalui akar-akar pohon. Dalam dialek setempat, liang diucapkan sebagai leang. Penamaan Leang To’ Bamban berasal dari kata to’ yang bermakna pohon, dan bamban merujuk pada sejenis kayu yang batangnya mirip seperti bambu. Pohon ini dulunya banyak tumbuh di sekitar tebing lokasi leang.
Di dalam ceruk ini terdapat tulang-tulang manusia yang kemungkinan besar jatuh dari erong yang ada di bagian atas. Erong tersebut, entah dengan cara bagaimana, terselip di retakan tebing yang tingginya beberapa meter dari ceruk bagian bawah. Sangat tidak memungkinkan untuk mencapainya kecuali menggunakan peralatan khusus seperti yang digunakan untuk panjat tebing.
Ceruk ini pun menyimpan kisah cinta yang mengharu biru. Tersebutlah seorang pemuda bernama Dodeng. Ia memiliki kekasih bernama Maruddani. Suatu hari Dodeng merantau untuk mencari nafkah dan berniat tidak akan pulang sebelum ia berhasil. Setelah tujuh tahun lamanya, barulah ia kembali ke Ilan Batu. Namun apa daya, kekasih yang ingin dilamarnya ternyata sudah tiada.
Warga kampung memberitahu Dodeng bahwa perempuan yang dikasihinya telah meninggal. Dengan hati sedih, Dodeng bertanya mencari tahu tempat di mana Maruddani dimakamkan. Orang-orang kemudian menunjukkan tempatnya, yaitu di dalam ceruk di Leang To’ Bamban. Maka memanjatlah Dodeng ke tebing untuk berziarah. Setelah hari itu, hidup hanyalah ruang hampa yang wajib dijalani.
Pada suatu ketika, ia pergi menyadap tuak di sebuah pohon nira yang tumbuh di dekat tebing Leang To’ Bamban. Sayup-sayup terdengar ada nyanyian dari dalam ceruk menyebut namanya. “Dodeng marambi madedek…” Dia heran suara dari manakah itu. Ia tajamkan pendengarannya. Nyanyain itu berulang. Kali ini ia yakin bahwa itu adalah suara Maruddani.
“Dodeng yang mengambil tuak, sudah tujuh tahun saya meninggal tapi kau tak datang juga. Kau telah berjanji kita akan sehidup semati. Kini saya telah lebih dulu mati. Saya berharap janji itu kau tepati.”
Pemuda itu teringat akan kata-kata yang telah ia ucapkan, sadar bahwa ia hampir lalai. Maka demi menunaikan janji, maka iapun naik ke ceruk di mana peti mati perempuan itu diletakkan. Ia memanjat lewat akar-akar kayu. Setiap beberapa meter, akar itu ia potong sehingga ia tidak bisa turun dan tidak ada orang lain yang bisa naik. Orang-orang yang melihatnya juga sudah pasrah. Apa boleh buat, janji harus dilunasi. Jadi tidak usah dihalangi. Dodeng membawa seekor ayam beserta kurungannya. Suara ayam itulah yang menemaninya menanti jemputan maut. Pada akhirnya, ketika tuannya meninggal, ayam tersebut juga mati karena kelaparan. (Atik)

Disqus Shortname

Comments system

Back To Top