Ilan Batu, Gua Pernikahan
![]() |
| Ilan Batu |
Gua Ilan Batu
terletak di gunung Buntu Sikuku, Kampung Ilan Batu-Ilan Baturu, Desa Ilan Batu,
Kecamatan Walenrang Barat. Ketinggiannya 274 meter di atas permukaan laut, berbatasan
dengan Sungai Lamasi di sebelah utara, perbukitan karst di sebelah selatan,
Kampung Ilan Batu di sebelah timur, dan dengan Kampung Lewandi di sebelah
barat. Jika terus menyusuri jalan pengerasan yang ada di depan gua, kita akan
sampai di Toraja.
Untuk mencapai lokasi ini, harus menempuh medan yang sedikit
terjal dan berbatu-batu. Namun akses transportasi yang belum terlalu baik tidak
menghalangi para pengunjung untuk mendatanginya. Dari jalan penghubung antar kampung,
pengunjung langsung berhadapan dengan sekitar dua ratusan anak tangga yang
harus didaki. Pengunjung dipermudah oleh pegangan besi yang cukup tinggi
sehingga tidak terlalu merasa kelelahan. Menjelang pintu gua, ada satu gazebo
yang dapat digunakan untuk beristirahat. Mulut
gua yang lebarnya sekitar empat setengah meter menghadap ke arah timur laut.
Ilan Batu berasal dari kata ilalan batu, artinya di
dalam batu. To berarti orang. Tolanbatu berarti orang yang tinggal di
dalam gua. Dahulu, orang-orang gua selalu menikahkan anak-anak atau cucunya di
sana. Waktu mereka keluar gua dan membuat rumah, mereka merasa tidak senang
jika tidak menikahkan keturunannya di dalam gua itu. Maka gua Ilan Batu disebut
juga sebagai loko pakaparan karena digunakan menjadi
semacam balai nikah bagi orang-orang jaman dahulu.
Bagian dalam gua berupa ruang yang sangat besar dengan lorong
yang panjang. Ruang gua dengan tinggi 17 meter dan lebar 16,2 meter ini dihiasi
ornamen serta di bagian langit-langit sebelah timur dipenuhi oleh kelelawar.
Kondisi tanah dalam gua cukup gembur bercampur dengan kotoran kelelawar dan
licin akibat air yang menetes dari langit-langit.
Di dalam gua ini
memang tidak terlihat temuan peti jenazah ataupun tengkorak seperti yang ada di
gua lain. Namun temuan beberapa batu yang diduga kuat sebagai alat serpih
menjadi petunjuk bahwa gua ini umur huniannya lebih tua daripada Liang Andulan.
Tinggalan arkeologis yang ditemukan tidak sama dengan temuan
pada beberapa gua lain yang ada di daerah Luwu. Di gua ini ditemukan tumpukan kerikil dan artefak batu, moluska atau
kerang dan beberapa pecahan gerabah.
Beberapa meter sebelum mencapai Ilan Batu, terdapat cerukan memanjang
pada dinding tebing. Bagian bawah ceruk merupakan lokasi satu-satunya yang bisa
dijangkau tanpa menggunakan alat, itupun harus dipanjat melalui akar-akar
pohon. Dalam dialek setempat, liang
diucapkan sebagai leang. Penamaan
Leang To’ Bamban berasal dari kata to’
yang bermakna pohon, dan bamban
merujuk pada sejenis kayu yang batangnya mirip seperti
bambu. Pohon ini dulunya banyak tumbuh di sekitar tebing lokasi leang.
Di dalam ceruk ini terdapat tulang-tulang manusia yang
kemungkinan besar jatuh dari erong
yang ada di bagian atas. Erong
tersebut, entah dengan cara bagaimana, terselip di retakan tebing yang
tingginya beberapa meter dari ceruk bagian bawah. Sangat tidak memungkinkan
untuk mencapainya kecuali menggunakan peralatan khusus seperti yang digunakan
untuk panjat tebing.
Ceruk ini pun menyimpan kisah cinta yang mengharu biru. Tersebutlah
seorang pemuda bernama Dodeng. Ia memiliki kekasih bernama Maruddani. Suatu
hari Dodeng merantau untuk mencari nafkah dan berniat tidak akan pulang sebelum
ia berhasil. Setelah tujuh tahun lamanya, barulah ia kembali ke Ilan Batu.
Namun apa daya, kekasih yang ingin dilamarnya ternyata sudah tiada.
Warga kampung memberitahu Dodeng bahwa perempuan yang
dikasihinya telah meninggal. Dengan hati sedih, Dodeng bertanya mencari tahu
tempat di mana Maruddani dimakamkan. Orang-orang kemudian menunjukkan
tempatnya, yaitu di dalam ceruk di Leang To’ Bamban. Maka memanjatlah Dodeng ke
tebing untuk berziarah. Setelah hari itu, hidup hanyalah ruang hampa yang wajib
dijalani.
Pada suatu ketika, ia pergi menyadap tuak di sebuah pohon
nira yang tumbuh di dekat tebing Leang To’ Bamban. Sayup-sayup terdengar ada
nyanyian dari dalam ceruk menyebut namanya. “Dodeng marambi madedek…” Dia heran suara dari manakah itu. Ia
tajamkan pendengarannya. Nyanyain itu berulang. Kali ini ia yakin bahwa itu adalah
suara Maruddani.
“Dodeng yang mengambil tuak, sudah tujuh tahun saya meninggal
tapi kau tak datang juga. Kau telah berjanji kita akan sehidup semati. Kini
saya telah lebih dulu mati. Saya berharap janji itu kau tepati.”
Pemuda itu teringat akan kata-kata yang telah ia ucapkan,
sadar bahwa ia hampir lalai. Maka demi menunaikan janji, maka iapun naik ke
ceruk di mana peti mati perempuan itu diletakkan. Ia memanjat lewat akar-akar
kayu. Setiap beberapa meter, akar itu ia potong sehingga ia tidak bisa turun
dan tidak ada orang lain yang bisa naik. Orang-orang yang melihatnya juga sudah
pasrah. Apa boleh buat, janji harus dilunasi. Jadi tidak usah dihalangi. Dodeng
membawa seekor ayam beserta kurungannya. Suara ayam itulah yang menemaninya
menanti jemputan maut. Pada akhirnya, ketika tuannya meninggal, ayam tersebut
juga mati karena kelaparan. (Atik)
