Breaking News
Loading...
Feb 24, 2016

Kapurung, Makanan Tradisional Luwu yang Menggigit Lidah


Kapurung


Jika kita berkunjung ke suatu daerah, tidak lengkap rasanya jika kita tidak menikmati kuliner atau makanan khas dari daerah tersebut. Bisa dikatakan, setiap daerah memiliki masakan khasnya masing-masing. Lalu apa makanan khas yang dapat kita nikmati di Makassar?
Penduduk Nusantara tentunya sudah tidak asing dengan nama Coto Makassar. Ya, inilah salah satu makanan khas yang terkenal di Makassar. Coto Makassar terbuat dari daging sapi.
Namun selain Coto Makassar, masih banyak masakan khas lain yang bisa kita nikmati di Kota Anging Mamiri ini. Salah satunya adalah kapurung, makanan yang terbuat dari sagu.  Sebenarnya, kapurung adalah makanan khas dari Kabupaten Palopo, yang terletak di ujung utara Sulsel, dekat perbatasan Sulawesi Tengah. Namun kapurung tidak hanya populer di daerah asalnya tersebut, melainkan juga di Makassar dan kabupaten lainnya di Sulsel.
Kapurung merupakan hasil perpaduan antara sagu, jagung, berbagai jenis sayuran, serta bumbu-bumbu khas. Tambahan lainnya adalah ikan kering, ayam, atau udang, yang biasanya disesuaikan dengan selera masing-masing.
Proses pembuatan kapurung
Perpaduan berbagai bahan ini menciptakan rasa yang begitu unik dan nikmat. Sagu yang lembut dan kenyal serasa menggelitik lidah. Rasanya menjadi tambah nikmat karena dipadukan dengan sayuran segar, ikan kering, dan bumbu-bumbu yang khas. Perpaduan ini menghadirkan rasa yang cukup lezat, apalagi jika dinikmati dalam keadaan masih panas.
Proses pembuatan kapurung terbilang gampang, namun tentunya rumit bagi yang tidak memahami seni memasak makanan tradisional Sulsel. Bahan pertama dan paling utama adalah bola-bola sagu. Untuk membuat bola-bolsa sagu ini, pertama-tama, tepung sagu dikentalkan dengan cara dimasak. Sagu yang telah mengental kemudian dibentuk bulatan-bulatan dengan alat khusus. Untuk menjaga agar tidak meleleh, bulatan-bulatan ini dimasukkan ke dalam air dingin sambil menunggu bahan lainnya disiapkan.
Sedangkan untuk bumbu kuah, dibuat dari campuran beberapa bahan yang diulek dan dihaluskan. Di antaranya adalah kacang tanah yang telah disangrai, jeruk nipis, jantung pisang dan buah terong yang telah diiris tipis dan telah dikukus, buah patikala, dan garam. Ramuan bumbu ini menciptakan kuah yang kental dan aroma yang khas.
Untuk kuahnya, irisan jagung dimasak dengan suhu sedang hingga mendidih. Setelah irisan buah jagung matang, yang menyusul dimasukkan adalah potongan kacang panjang dan daun bayam segar. Setelah sayuran matang, bumbu yang telah dihaluskan bisa dimasukkan.
Proses pembuatan kapurung
Sebaiknya, sayuran jangan dibiarkan terlalu layu karena akan mengurangi kandungan vitaminnya. Dan sayuran yang berwarna terlalu cokelat karena dimasak terlalu lama akan mengurangi keindahan tampilang kapurung ketika disajikan.
Begitu sayuran dan bumbu tercampur sempurna, selanjurnya siap dituangkan ke dalam mangkok-mangkok yang telah terisi bola-bola sagu. Untuk menyempurnakan rasanya, bisa ditambahkan dengan daging ayam, udang, atau ikan kering sesuai selera. Setelah itu, kapurung siap dihidangkan.
Jika melihat bahannya, dapat dipastikan kapurung mengandung nilai gizi yang cukup tinggi. Seperti diketahui, sagu adalah salah satu sumber karbohidrat tinggi yang bisa menggantikan nasi.  Dulu, sebelum masyarakat kita akrab dengan beras, masyarakat Bugis-Makassar menggunakan sagu sebagai makanan pokok. Pohon-pohon sagu dulunya tumbuh dengan subur di tanah Sulsel.
Seiring perkembangan zaman dan pembangunan, tanaman sagu semakin susah ditemukan. Karena itu, menemukan makanan berbahan sagu di zaman sekarang seperti menjadi sebuah kemewahan tersendiri. Tak terkecuali kapurung. Makanan yang sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu kala ini begitu diminati masyarakat Sulsel, bahkan oleh turis-turis.
Selain itu, sayuran tentunya juga merupakan sumber mineral, vitamin A dan vitamin C. Karena itu, selain rasanya yang lezat, manfaat lain dari kapurung adalah kandungan gizi yang cukup tinggi. Maka tak heran, kapurung menjadi salah satu makanan tradisional yang dicari oleh orang-orang yang datang ke Makassar. (Anies)

 

Disqus Shortname

Comments system

Back To Top