Roh-roh yang Mencari Persemayaman di Penjara Bawah Tanah Benteng Rotterdam
![]() |
| Fort Rotterdam |
Pada tahun 1667
ketika perjanjian Bongaya antara VOC dan Kerajaan Gowa ditandatangani,
segalanya berubah bagi Mirna Gonzales. Saat itu menjadi perjalanan terakhirnya
mengikuti kapal yang dikemudikan ayahnya dari Portugis ke tanah Bugis,
sekaligus menjadi penentu akan nasibnya kemudian.
Ketika kapal
ayahnya merapat di Pelabuhan Ujung Pandang (Makassar), air matanya menetes.
Tidak ada lagi lambaian tangan kekasihnya dari jauh. Pada tahun-tahun
sebelumnya, begitu kapal merapat ke dermaga, ia akan lari ke dek dan memandang
jauh. Di sana, di batas dermaga, ia akan menyaksikan tubuh kekar sang kekasih
sedang melambai-lambaikan tangan menyambutnya. Bahkan dari jauh, Mirna bisa
menyaksikan senyum yang tersungging di bibirnya.
Sejak Portugis
menduduki Ujung Pandang, Mirna selalu mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai
kapten kapal pengangkut barang. Ia ikut sekedar menuntaskan rindunya pada sang
kekasih.
Sejak kapal
masih berlabuh di Batavia (Jakarta), ia sudah mendengar kabar mengenai
perseteruan antara Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone. Ia juga sudah tahu bahwa
VOC bersekutu dengan Arung Palaka—Raja Bone ketika itu. Ia sudah mendengar
bahwa Perjanjian Bongaya sudah ditandatangani. Sekarang monopoli perdagangan
dikuasai Belanda. Semua orang Eropa harus angkat kaki dari Ujung Pandang.
Tentara Portugis yang tertangkap akan ditahan. Benteng pertahanan harus
diserahkan kepada Belanda.
| Lukisan Mirna Gonzales |
Ketika turun
dari kapal dengan disambut tentara Belanda dan tanpa lambaian tangan kekasihnya,
Mirna sudah paham semuanya. Tentara Belanda menyita barang dari kapal dan
memerintahkan kapal tersebut berlayar kembali ke Portugis tanpa membawa apa-apa
dari Makassar. Tapi Mirna nekat. Ia tak ingin kembali tanpa bertemu dengan sang
kekasih. Ia nekat masuk ke dalam Benteng Ujung Pandang (sekarang Benteng Fort
Rotterdam) ke tempat di mana sang kekasih ditawan.
Tapi Mirna
memang terlampau nekat. Cinta membuat ia melakukan segalanya, tapi juga
membuatnya kehilangan nyawa. Mirna tewas tergantung di dalam penjara bawah
tanah, di depan mata kekasihnya.
Benteng Ujung
Pandang kemudian, di bawah kekuasaan Belanda, berganti nama menjadi Fort
Rotterdam.
Sekitar tahun
1990-an, arwah Mirna mendatangi Bahtiar Hafid (67 tahun) dan meminta agar
dirinya diabadikan dalam lukisan. “Lukislah aku, dan kau bisa memajang
lukisanku di sini, di dalam galerimu untuk menarik orang-orang. Tapi aku juga
meminta agar kau mendoakan arwahku,” pintanya pada Bahtiar.
Bahtiar adalah
seorang pelukis dan dosen seni rupa di Universitas Negeri Makassar. Ia mengaku
lukisan-lukisannya beraliran ekstra
dimensi. Sudah bertahun-tahun ia menempati salah satu ruangan di Benteng
Rotterdam sebagai galeri lukisannya. Ruang tersebut adalah ruang bawah tanah
yang semasa kekuasaan Belanda dijadikan sebagai penjara. Di ruang itu dulu,
banyak tahanan yang mati karena disiksa Belanda. Dan Mirna adalah salah
satunya.
Ketika Bahtiar
mulai menempati galeri itulah, Mirna mendekatinya dan minta dilukis. Alangkah
terkejutnya Bahtiar. Mirna adalah sesosok wanita cantik jelita berkulit putih
dan berambut ikal sebahu. Tapi kakinya tidak menjejak bumi. Saat bergerak, ia
seolah melayang.
Bahtiar tak
kuasa menolak permintaan Mirna. Ia merasa iba ketika menyadari arwah Mirna
gentayangan dan tidak memiliki tempat untuk bernaung. Apalagi ketika Mirna
menceritakan kronologis bagaimana ia meninggal. Mirna seakan membawa Bahtiar
menyusur lorong waktu, menengok ke belakang, di masa jauh sebelum Bahtiar
terlahir. Dengan bantuan Mirna, ia bisa melihat bagaimana gadis itu disiksa di
dalam penjara bawah tanah. Kepada Bahtiar, Mirna mengaku bahwa ia merasa
tersiksa. Ia butuh sebuah media untuk persemayaman arwahnya.
Kini, dua buah
lukisan Mirna masih terpajang di galeri Bahtiar. Satu buah lukisan close up dan satu lukisan seluruh badan
dengan sebuah gaun panjang. Menurut Bahtiar, Mirna berumah di dalam lukisan
itu. Kadang kala, Bahtiar menyaksikan pengunjung galerinya berdiam lama di
depan lukisan Mirna lalu menangis terisak-isak dengan sedih. Terkadang ada yang
sampai kesurupan. Itu berarti, pengunjung tersebut memiliki kemampuan melihat
roh, dan menyaksikan Mirna di sana.
![]() |
| Fort Rotterdam |
Mirna bukan
arwah pertama yang dilukis oleh Bahtiar. Sebelumnya ada Sultan Hasanuddin dan
Arung Palaka pada tahun 1991. Mirna Gonzales adalah objek lukisannya yang
ketiga. Jika ditanya bagaimana caranya ia bisa bertemu dengan para arwah yang
menjadi objek lukisannya, Bahtiar mengaku bingung. Ia berkata semuanya datang
begitu saja semacam anugerah dari Tuhan.
Sultan
Hasanuddin adalah Raja Gowa dahulu, dan Arung Palaka adalah Raja Bone. Keduanya
pernah berseteru. Perseteruan itulah yang menghasilkan Perjanjian Bongaya,
karena Arung Palaka bersekutu dengan Belanda hingga bisa mengalahkan Sultan
Hasanuddin.
Bahtiar juga
melukis 3 orang wali dengan cara yang sama. Datok Ri bandang, Datok Ri Tiro,
dan Datok Patimang, yang merupakan penyebar agama Islam di Sulawesi Selatan.
Lukisan Bahtiar lainnya yang cukup menarik
adalah lukisan Benteng Rotterdam di masa penjajahan. Dulu, di masa penguasaan
Portugis, Benteng Rotterdam hanya berupa bangunan yang terbuat dari kayu.
Sekelilingnya dipagari dengan batu. Dan di sekeliling pagar di luar benteng,
mengalir air di dalam parit yang cukup lebar. Di depan pintu gerbang utama
terdapat sebuah jembatan kayu yang bisa terangkat. Jembatan itulah jalan masuk
ke benteng. Namun jika tak digunakan, jembatan tersebut terangkat ke atas untuk
mencegah musuh masuk ke benteng. Di tengah benteng terdapat bangunan yang jauh
lebih tinggi—semacam menara— sebagai tempat untuk mengawasi kapal-kapal yang
datang ke Makassar. Benteng ini memang dibangun persis di tepi laut, dan sangat
strategis untuk dijadikan sebagai pusat pertahanan.
Setelah Makassar
dikuasai Belanda dan Portugis terusir, benteng tersebut direnovasi. Bangunan
kayu dirobohkan dan dibangun kembali dengan beton. Bangunan itulah yang masih
bertahan hingga kini.
Setelah
masa kemerdekaan, Benteng Rotterdam menjadi salah satu objek wisata yang paling
banyak dikunjungi turis di Makassar. Beberapa bangunan dijadikan pusat
perkantoran dan museum. Tempat ini juga dijadikan sebagai tempat pertunjukan
kebudayaan dan pegelaran seni rutin setiap tahun. Salah satunya, pementasan
teater I La Galigo yang disutradarai oleh seorang sutradara Amerika, Robert
Wilson pada 2011 lalu. 
