Breaking News
Loading...
Dec 21, 2012

Rammang-rammang, Sebuah Surga di Balik Gunung Batu

Rammang-rammang

Tempat ini seumpama kotak segi empat dengan sisi-sisi yang tak saling sejajar. Di setiap sisinya adalah dinding batu yang menjulang tinggi, dengan sungai yang mengalir tenang di bawahnya.  Di tengah adalah hamparan sawah. Semuanya serba hijau. Padi tumbuh dengan subur dan gemuk.
Di sini, segala rasa melebur bersama hening dan sejuk alam. Damai. Pemandangan hijau, kicau burung, kecipak air, hangat matahari, bau rumput dan semilir angin. Berjalan di atas pematang di tengah hamparan sawah yang luas adalah sebuah keindahan tersendiri yang tak telukiskan dengan kata-kata. Sebuah tempat terpencil yang jauh dari keramaian namun sangat indah.
Rumah-rumah penduduk berdiri di tengah sawah di sepanjang sisi pematang. Tidak banyak, hanya ada 17 kepala keluarga. Aku rasa butuh sebuah teriakan keras untuk saling mendengarkan suara dengan tetangga. Segalanya hening di sini. Hanya sesekali, beberapa hari dalam seminggu, tempat ini didatangi oleh anak-anak yang mencintai alam. Salah satunya anak-anak Korpala dari Universitas Hasanuddin.
Kami berjalan sekitar 1 kilometer dari rumah Pak Kepala Dusun yang sangat baik kepada kami. Saat itu sudah senja. Gerimis membuat matahari senja tak nampak sepenuhnya. Bapak itu, yang aku lupa menanyakan namanya, berbaik hati mengantarkan kami memasuki kotak gunung batu dengan hamparan hijau dan rumah-rumah panggung yang berjarak sekitar 30 meter satu sama lain.
Rammang-ra
Kami berenam. Ryan Rinaldy mahasiswa Sastra Prancis angkatan tua, Ismira yang hendak membuat liputan wisata untuk Koran Tempo Makassar, salah seorang Ryan lainnya yang mahasiswa Sejarah, Zulkifli Fadli mahasiswa Ekonomi yang juga seorang fotografer, dan Marine, dosen di Sastra Perancis yang juga berkebangsaan Perancis.
Karena ada 2 orang Ryan di sini, aku membedakan dengan Y dan I untuk menyebut keduanya. Ryan untuk  yang mahasiswa Sastra Prancis dan Rian untuk yang mahasiswa Sejarah.
Ryan dan Marine jalan paling belakang. Marine menjerit-jerit setiap kali melihat ulat pohon. Dan Ryan tertawa terkakak-kakak menyaksikan ulah dosennya itu. Ismi dan Rian lebih kalem, berjalan tepat di belakang Pak Kepala Dusun. Zul tak terlalu menikmati perjalanan dengan betis berdarah. Ia hampir terjatuh ke saat kami menyeberangi sungai di atas jembatan  yang hanya terbuat dari 2 helai papan yang sangat licin. Dan aku lebih tidak nyaman dengan sepatu kets putih yang seketika berubah cokelat akibat balutan lumpur.
Dari rumah Pak Kepala Dusun pertama-tama kami menapaki pematang empang. Lalu memasuki semak-semak dan masuk ke tengah hutan. Jalanannya tidak rata. Kadang menanjak dengan jalan berbatu kasar yang nampak cukup mengerikam jika kami tidak menggunakan alas kaki. Di bagian berikutnya kami terpaksa bertelanjang kaki karena jalan setapak yang becek dan berlumpur. Di sepanjang jalan tampak jejak kaki sapi atau kerbau. Kotoran mereka juga bertebaran di sepanjang sisi jalan dan di atas pematang sawah.
Kami melewati sungai-sungai kecil dan padang rumput. Ryan, Marine dan aku berada paling belakang karena kami sangat lambat. Kami hampir saja tersesat karena Zul menunjukkan jalan yang salah. Pak Kepala Dusun, Rian dan Ismi sudah jauh di depan dan tak kelihatan karena pandangan kami tertutupi dinding batu. Di sebuah jalan bercabang, Zul memilih jalan ke kanan atas dasar firasatnya. Saya memilih berteriak memanggil Ismi karena tidak ingin menyesal di tengah jalan, sementara Zul sudah terlanjur berbelok ke kanan. Marine cuek saja sambil menyanyikan lagu Ayu Ting Ting—Asik-asik dan Mencari Alamat—bersama Ryan di belakang kami.  Marine sudah 4 bulan di Makassar tapi sepertinya hanya lagu Ayu Ting Ting yang dia tahu.
Sayup suara Ismi dari jauh memberitahukan kalau kami harus memilih jalan ke kiri. Saya menertawakan Zul dengan firasatnya yang tak dapat diandalkan. Kami melanjutkan perjalanan. Sesekali bertemu petani yang entah mengangkuti apa.
Kami saling menertawakan kaki masing-masing yang hitam oleh lumpur. Kulit kami yang cokelat sepertinya tidak terlalu aneh dengan lumpur yang melekat hingga pertengahan betis. Toh warnanya hampir sama cokelatnya. Beda dengan Marine yang berkulit putih pucat.
Sejam kemudian kami tiba di tengah hamparan sawah yang luas menghijau dengan dinding-dinding batu di sekelilingnya. Dinding-dinding itu cukup tinggi. Di permukaannya tumbuh entah rerumputan atau lumut. Sekilas, yang terdengar hanya suara kicauan burung-burung, sebelum kami tiba di sebuah rumah panggung.
Rumah itu cukup ramai. Ada anak-anak pencinta alam dari fakultas Teknik Unhas yang sudah 2 malam berada di rumah itu. Jumlahnya belasan. Mereka duduk di teras dan di atas balai-balai kayu. Mereka mempersilahkan kami duduk di kursi.
Salah seorang dari mereka, yang tampaknya satu-satunya perempuan di tengah kelompok membuatkan teh panas dalam gelas kaca. Kami berenam, namun tampaknya gelasnya hanya 4 buah. Apa boleh buat. Satu gelas teh saya minum bertiga dengan Marine dan Ryan. Rasanya enak juga di saat badan kami terasa dingin oleh gerimis dan hawa senja.
Salah seorang di antara mereka, yang baru muncul dari tangga menunjuk  ke atas salah satu dinding batu di sebelah utara. “Di atas sisi dinding batu itu, ada banyak gua kecil,” katanya. “Setiap sore, ratusan atau ribuan burung sejenis kelelawar terbang keluar dari sarang untuk mencari makanan. Cantik sekali. Sayang sekarang sudah terlalu sore.”
Saya menatapi dinding-dinding batu. Benar saja, di atas sana tampak banyak lubang besar. Barangkali itulah yang ia maksudkan sebagai gua tempat burung-burung itu bersarang. Sayang juga kami tidak sempat menyaksikan. Kami datang terlalu sore dan dengan cuaca yang agak kurang bersahabat. Gerimis ini lumayan mengganggu.
Anak-anak Pencinta alam ini bercerita kalau mereka sedang membuat sebuah pondok kecil untuk anak-anak belajar. Di tempat ini ada anak-anak kecil yang hanya sekolah 2 kali dalam seminggu karena fasilitas transportasi yang tidak memadai. Untuk ke sekolah di perkampungan, mereka harus menggunakan sampan sekitar 20 menit, menyusuri sungai dengan pohon-pohon bakau dan sagu di tepiannya. Untuk jalan kaki tidak memungkinkan.
Kami pamit menjelang magrib.
“Jadi, Anies, kita tidak bermalam ya. Kita cuma lihat-lihat saja?” bisik Marine.
“Iya,” jawabku.
“Nanti kita bisa datang ke sini lagi ya,” ucapnya lagi.
“Sekarang lagi gerimis. Kita juga tidak bawa persiapan. Nanti kita datang lagi bawa tenda dan bekal untuk bermalam.” Marine mengangguk-angguk setuju.
Ryan sendiri mengusulkan agar kami bermalam saja dengan meminta bantuan bekal kepada anak-anak pencinta alam. Tapi saya tidak setuju. Bekal mereka juga tampaknya pas-pasan.
Saat pulang kami tidak melewati jalan yang sama. Kami hendak naik sampan kembali ke perkampungan. Untuk jalan kaki, medannya terlalu berat karena hari sudah gelap. Jalanan tidak akan terlihat dengan jelas. Belum lagi ketakutan akan ular di hutan. Di sela-sela perbincangan dengan anak-anak pencinta alam itu sempat kutangkap kata ‘buaya’. Mendengarnya membuatku bergidik.
Ada 3 buah sampan kecil yang akan mengantarkan kami. Melihatnya aku bergidik ngeri. Panjangnya sekitar 2 meter dengan lebar sekitar 50 sentimeter. Kedua ujungnya yang runcing membatasi kapasitas yang bisa diangkut.
Ismi dan Rian naik ke atas sampan pertama dengan takut-takut. Baru bergoyang sedikit saja sampan itu langsung oleng. Zul menyusul naik, namun seketika sampan hampir terbalik. Kami tertawa karena Zul bertubuh besar dan berat namun juga kasihan padanya. Ia berjalan berjingkat-jingkat dengan betis yang masih sakit dan masih mengucurkan darah. Ia turun kembali. Di atas sampan pertama hanya ada Ismi, Rian dan pemilik sampan.
Saya naik ke atas sampan kedua. Marine menyusul. Pak kepala Dusun ternyata ikut dengan kami. Pengayuh sampan duduk paling belakang. Aku di depannya saling berhadap-hadapan dengan Marine. Pak Kepala Dusun dan Marine saling membelakangi. Kami sukses menjaga keseimbangan karena kami sama-sama bertubuh kecil.
“Marine, anggap saja kita sedang berperahu di sungai Amazone!” teriak Rian.
“Ya ya,” jawab Marine sambil terkikik. Dan di tengah perjalanan, Rian masih berteriak saat sampan kami mendahuluinya: “Marine, we are in Amazone, right?!” Marine kembali terkikik.
Di atas sampan ketiga ada Ryan dan Zul. Berarti sampan yang aku tumpangi yang berpenumpang paling banyak. Saat semuanya sudah siap, kami pun berangkat. Ismi dan Rian paling depan. Aku dan Marine kemudian, menyusul Ryan dan Zul.
“Marine, kamu bisa berenang?” tanyaku. Marine tampak berpikir sejenak sebelum menjawab. Ia belum fasih berbahasa Indonesia meskipun perkembangan kemampuannya cukup mencengangkan. Ada juga beberapa kata yang kurasa ia pelajari secara ajaib dan ilegal. Seperti kata ‘tabe’’ yang dalam bahasa Bugis artinya permisi. Juga kata ‘Olala’ yang selalu keluar dari mulutnya dengan logat Bugis setiap menanggapi sesuatu.
“Iya,” jawabnya kemudian. “Kamu bisa?”
“Tidak,” jawabku.
“Kamu tenang saja ya. Saya akan menyelamatkan kamu,” katanya sambil merentangkan kedua tangan.
Aku melongo. Kubayangkan diriku barangkali sebentar lagi akan megap-megap di dalam sungai dan ditolong gadis pirang ini. Air sungai sejajar dengan pinggiran sampan yang mungil. Dan kata-kata Marine seolah menunjukkan bahwa sampan ini memang akan terbalik semenit lagi. Kata ‘menyelamatkan kamu’ seperti sebuah penegasan.
“Kamu takut?” tanyanya padaku. Aku mengangguk. Ini pengalaman pertama bagiku melakukan perjalanan seperti ini.
“Saya juga takut sedikit. hihi. Tadi. Tapi sekarang tidak lagi,” katanya.
Perjalanan senyap. Yang ada hanya suaraku dan Marine. Pemilik sampan dan Pak Kepala Dusun memilih diam. Percakapan kami selanjutnya di atas sampan adalah bagian lain yang ingin kuceritakan. Aku mengagumi otak Marine yang encer. Ia baru 4 bulan di Makassar namun mampu menguasai bahasa Indonesia dengan cepat. Bukan bahasa Indonesia yang sesuai EYD melainkan bahasa Indonesia versi Makassar. Dan ini tentu saja hasil didikan Ryan sebagai mahasiswanya di kampus sekaligus yang selalu membawanya ke mana-mana.
Ada suara burung di atas ketinggian di atas kepala kami dan sesuatu yang berbau harum. Kata Pak Kepala Dusun, bau harum itu berasal dari sarang sejenis burung. Marine bertanya padaku apa nama binatang sejenis little lamp yang terbang. Ia bertanya sambil menggerak-gerakkan jemarinya. Jika ia ingin bertanya sesuatu padaku, ia mencampur antara bahasa Indonesia dan Inggris. Aku sama sekali tidak mengerti bahasa Prancis kecuali merci dan Je t’aime. Aku segera mengerti bahwa yang ia maksud adalah kunang-kunang alias fireflies.
Seketika aku sadar ia baru saja menyaksikan kunang-kunang. Dan kunang-kunang di tengah pekat malam adalah bagian lain yang kami nikmati selama dalam perjalanan. Masya Allah indahnya! Aku tercengang menyaksikan mereka bergerombol di atas pohon di sisi kami. Di tengah pekat malam, pohon itu menjadi sangat terang oleh kerlap-kerlipnya. Pohon kunang-kunang! Hampir semua pohon yang kami lewati memiliki gemerlap indah itu.
“It’s like a magic tree,” kata Marine.
“Seperti pohon natal,” aku menimpali.
“Iya, seperti pohon natal ya.”
Keindahan itu membuat kengerian kami hilang. Tak lagi kami risaukan sampan kecil ini yang tampaknya hanya dengan sebuah jari kelingking akan terbalik seketika. Dalam hati aku berharap perjalanan kami masih jauh agar kami bisa berlama-lama menikmati keindahan pohon kunang-kunang.
Saat kami tiba di jembatan tempat kami harus turun dari sampan, dalam hati aku berjanji untuk datang kembali suatu hari nanti. Dan kami semua sudah sepakat untuk datang lagi dengan membawa tenda dan bekal yang cukup.
Sampan kami tiba lebih awal. “Tabe’,” kata Marine sambil berdiri mendahuluiku turun dari sampan.
Ismi dan Rian kemudian, Ryan dan Zul paling belakang. Kaki Zul keram akibat betis yang diikat dengan kain untuk mencegah darahnya terlalu banyak mengalir. Ryan menggendong Zul turun dari sampan. Dan kami tertawa-tawa menyaksikan. Bagaimana tidak, tubuh Ryan jauh lebih kecil ketimbang Zul. Ryan mengomel karena mengira Zul hanya mengerjainya.
Kami menuju rumah Pak Kepala Dusun untuk mengambil sepeda motor dan kembali ke Makassar. Dusun Rammang-rammang di Kabupaten Maros tidak terlalu jauh dari Makassar. Kuperkirakan tidak sampai 80 kilometer.
Makassar, 19 Februari 2012

Disqus Shortname

Comments system

Back To Top