Rammang-rammang, Sebuah Surga di Balik Gunung Batu
![]() |
| Rammang-rammang |
Tempat ini seumpama kotak segi empat
dengan sisi-sisi yang tak saling sejajar. Di setiap sisinya adalah dinding batu
yang menjulang tinggi, dengan sungai yang mengalir tenang di bawahnya. Di
tengah adalah hamparan sawah. Semuanya serba hijau. Padi tumbuh dengan subur
dan gemuk.
Di sini, segala rasa melebur bersama
hening dan sejuk alam. Damai. Pemandangan hijau, kicau burung, kecipak air,
hangat matahari, bau rumput dan semilir angin. Berjalan di atas pematang di
tengah hamparan sawah yang luas adalah sebuah keindahan tersendiri yang tak
telukiskan dengan kata-kata. Sebuah tempat terpencil yang jauh dari keramaian
namun sangat indah.
Rumah-rumah penduduk berdiri di tengah
sawah di sepanjang sisi pematang. Tidak banyak, hanya ada 17 kepala keluarga.
Aku rasa butuh sebuah teriakan keras untuk saling mendengarkan suara dengan
tetangga. Segalanya hening di sini. Hanya sesekali, beberapa hari dalam
seminggu, tempat ini didatangi oleh anak-anak yang mencintai alam. Salah
satunya anak-anak Korpala dari Universitas Hasanuddin.
Kami berjalan sekitar 1 kilometer dari
rumah Pak Kepala Dusun yang sangat baik kepada kami. Saat itu sudah senja.
Gerimis membuat matahari senja tak nampak sepenuhnya. Bapak itu, yang aku lupa
menanyakan namanya, berbaik hati mengantarkan kami memasuki kotak gunung batu
dengan hamparan hijau dan rumah-rumah panggung yang berjarak sekitar 30 meter
satu sama lain.![]() |
| Rammang-ra |
Kami berenam. Ryan Rinaldy mahasiswa
Sastra Prancis angkatan tua, Ismira yang hendak membuat liputan wisata untuk
Koran Tempo Makassar, salah seorang Ryan lainnya yang mahasiswa Sejarah,
Zulkifli Fadli mahasiswa Ekonomi yang juga seorang fotografer, dan Marine,
dosen di Sastra Perancis yang juga berkebangsaan Perancis.
Karena ada 2 orang Ryan di sini, aku
membedakan dengan Y dan I untuk menyebut keduanya. Ryan untuk yang
mahasiswa Sastra Prancis dan Rian untuk yang mahasiswa Sejarah.
Ryan dan Marine jalan paling belakang.
Marine menjerit-jerit setiap kali melihat ulat pohon. Dan Ryan tertawa
terkakak-kakak menyaksikan ulah dosennya itu. Ismi dan Rian lebih kalem,
berjalan tepat di belakang Pak Kepala Dusun. Zul tak terlalu menikmati
perjalanan dengan betis berdarah. Ia hampir terjatuh ke saat kami menyeberangi
sungai di atas jembatan yang hanya terbuat dari 2 helai papan yang sangat
licin. Dan aku lebih tidak nyaman dengan sepatu kets putih yang seketika
berubah cokelat akibat balutan lumpur.
Dari rumah Pak Kepala Dusun pertama-tama
kami menapaki pematang empang. Lalu memasuki semak-semak dan masuk ke tengah
hutan. Jalanannya tidak rata. Kadang menanjak dengan jalan berbatu kasar yang
nampak cukup mengerikam jika kami tidak menggunakan alas kaki. Di bagian
berikutnya kami terpaksa bertelanjang kaki karena jalan setapak yang becek dan
berlumpur. Di sepanjang jalan tampak jejak kaki sapi atau kerbau. Kotoran
mereka juga bertebaran di sepanjang sisi jalan dan di atas pematang sawah.
Kami melewati sungai-sungai kecil dan
padang rumput. Ryan, Marine dan aku berada paling belakang karena kami sangat
lambat. Kami hampir saja tersesat karena Zul menunjukkan jalan yang salah. Pak
Kepala Dusun, Rian dan Ismi sudah jauh di depan dan tak kelihatan karena
pandangan kami tertutupi dinding batu. Di sebuah jalan bercabang, Zul memilih
jalan ke kanan atas dasar firasatnya. Saya memilih berteriak memanggil Ismi
karena tidak ingin menyesal di tengah jalan, sementara Zul sudah terlanjur
berbelok ke kanan. Marine cuek saja sambil menyanyikan lagu Ayu Ting
Ting—Asik-asik dan Mencari Alamat—bersama Ryan di belakang kami. Marine
sudah 4 bulan di Makassar tapi sepertinya hanya lagu Ayu Ting Ting yang dia
tahu.
Sayup suara Ismi dari jauh memberitahukan
kalau kami harus memilih jalan ke kiri. Saya menertawakan Zul dengan firasatnya
yang tak dapat diandalkan. Kami melanjutkan perjalanan. Sesekali bertemu petani
yang entah mengangkuti apa.
Kami saling menertawakan kaki
masing-masing yang hitam oleh lumpur. Kulit kami yang cokelat sepertinya tidak
terlalu aneh dengan lumpur yang melekat hingga pertengahan betis. Toh warnanya
hampir sama cokelatnya. Beda dengan Marine yang berkulit putih pucat.
Sejam kemudian kami tiba di tengah
hamparan sawah yang luas menghijau dengan dinding-dinding batu di
sekelilingnya. Dinding-dinding itu cukup tinggi. Di permukaannya tumbuh entah
rerumputan atau lumut. Sekilas, yang terdengar hanya suara kicauan burung-burung,
sebelum kami tiba di sebuah rumah panggung.
Rumah itu cukup ramai. Ada anak-anak
pencinta alam dari fakultas Teknik Unhas yang sudah 2 malam berada di rumah
itu. Jumlahnya belasan. Mereka duduk di teras dan di atas balai-balai kayu.
Mereka mempersilahkan kami duduk di kursi.
Salah seorang dari mereka, yang tampaknya
satu-satunya perempuan di tengah kelompok membuatkan teh panas dalam gelas
kaca. Kami berenam, namun tampaknya gelasnya hanya 4 buah. Apa boleh buat. Satu
gelas teh saya minum bertiga dengan Marine dan Ryan. Rasanya enak juga di saat
badan kami terasa dingin oleh gerimis dan hawa senja.
Salah seorang di antara mereka, yang baru
muncul dari tangga menunjuk ke atas salah satu dinding batu di sebelah
utara. “Di atas sisi dinding batu itu, ada banyak gua kecil,” katanya. “Setiap
sore, ratusan atau ribuan burung sejenis kelelawar terbang keluar dari sarang
untuk mencari makanan. Cantik sekali. Sayang sekarang sudah terlalu sore.”
Saya menatapi dinding-dinding batu. Benar
saja, di atas sana tampak banyak lubang besar. Barangkali itulah yang ia
maksudkan sebagai gua tempat burung-burung itu bersarang. Sayang juga kami
tidak sempat menyaksikan. Kami datang terlalu sore dan dengan cuaca yang agak
kurang bersahabat. Gerimis ini lumayan mengganggu.
Anak-anak Pencinta alam ini bercerita
kalau mereka sedang membuat sebuah pondok kecil untuk anak-anak belajar. Di
tempat ini ada anak-anak kecil yang hanya sekolah 2 kali dalam seminggu karena
fasilitas transportasi yang tidak memadai. Untuk ke sekolah di perkampungan,
mereka harus menggunakan sampan sekitar 20 menit, menyusuri sungai dengan
pohon-pohon bakau dan sagu di tepiannya. Untuk jalan kaki tidak memungkinkan.
Kami pamit menjelang magrib.
“Jadi, Anies, kita tidak bermalam ya. Kita
cuma lihat-lihat saja?” bisik Marine.
“Iya,” jawabku.
“Nanti kita bisa datang ke sini lagi ya,”
ucapnya lagi.
“Sekarang lagi gerimis. Kita juga tidak
bawa persiapan. Nanti kita datang lagi bawa tenda dan bekal untuk bermalam.”
Marine mengangguk-angguk setuju.
Ryan sendiri mengusulkan agar kami
bermalam saja dengan meminta bantuan bekal kepada anak-anak pencinta alam. Tapi
saya tidak setuju. Bekal mereka juga tampaknya pas-pasan.
Saat pulang kami tidak melewati jalan yang
sama. Kami hendak naik sampan kembali ke perkampungan. Untuk jalan kaki,
medannya terlalu berat karena hari sudah gelap. Jalanan tidak akan terlihat
dengan jelas. Belum lagi ketakutan akan ular di hutan. Di sela-sela
perbincangan dengan anak-anak pencinta alam itu sempat kutangkap kata ‘buaya’.
Mendengarnya membuatku bergidik.
Ada 3 buah sampan kecil yang akan
mengantarkan kami. Melihatnya aku bergidik ngeri. Panjangnya sekitar 2 meter
dengan lebar sekitar 50 sentimeter. Kedua ujungnya yang runcing membatasi
kapasitas yang bisa diangkut.
Ismi dan Rian naik ke atas sampan pertama
dengan takut-takut. Baru bergoyang sedikit saja sampan itu langsung oleng. Zul
menyusul naik, namun seketika sampan hampir terbalik. Kami tertawa karena Zul
bertubuh besar dan berat namun juga kasihan padanya. Ia berjalan
berjingkat-jingkat dengan betis yang masih sakit dan masih mengucurkan darah.
Ia turun kembali. Di atas sampan pertama hanya ada Ismi, Rian dan pemilik
sampan.
Saya naik ke atas sampan kedua. Marine
menyusul. Pak kepala Dusun ternyata ikut dengan kami. Pengayuh sampan duduk
paling belakang. Aku di depannya saling berhadap-hadapan dengan Marine. Pak
Kepala Dusun dan Marine saling membelakangi. Kami sukses menjaga keseimbangan
karena kami sama-sama bertubuh kecil.
“Marine, anggap saja kita sedang berperahu
di sungai Amazone!” teriak Rian.
“Ya ya,” jawab Marine sambil terkikik. Dan
di tengah perjalanan, Rian masih berteriak saat sampan kami mendahuluinya: “Marine,
we are in Amazone, right?!” Marine kembali terkikik.
Di atas sampan ketiga ada Ryan dan Zul.
Berarti sampan yang aku tumpangi yang berpenumpang paling banyak. Saat semuanya
sudah siap, kami pun berangkat. Ismi dan Rian paling depan. Aku dan Marine
kemudian, menyusul Ryan dan Zul.
“Marine, kamu bisa berenang?” tanyaku.
Marine tampak berpikir sejenak sebelum menjawab. Ia belum fasih berbahasa
Indonesia meskipun perkembangan kemampuannya cukup mencengangkan. Ada juga
beberapa kata yang kurasa ia pelajari secara ajaib dan ilegal. Seperti kata
‘tabe’’ yang dalam bahasa Bugis artinya permisi. Juga kata ‘Olala’ yang selalu
keluar dari mulutnya dengan logat Bugis setiap menanggapi sesuatu.
“Iya,” jawabnya kemudian. “Kamu bisa?”
“Tidak,” jawabku.
“Kamu tenang saja ya. Saya akan
menyelamatkan kamu,” katanya sambil merentangkan kedua tangan.
Aku melongo. Kubayangkan diriku barangkali
sebentar lagi akan megap-megap di dalam sungai dan ditolong gadis pirang ini.
Air sungai sejajar dengan pinggiran sampan yang mungil. Dan kata-kata Marine seolah
menunjukkan bahwa sampan ini memang akan terbalik semenit lagi. Kata
‘menyelamatkan kamu’ seperti sebuah penegasan.
“Kamu takut?” tanyanya padaku. Aku
mengangguk. Ini pengalaman pertama bagiku melakukan perjalanan seperti ini.
“Saya juga takut sedikit. hihi. Tadi. Tapi
sekarang tidak lagi,” katanya.
Perjalanan senyap. Yang ada hanya suaraku
dan Marine. Pemilik sampan dan Pak Kepala Dusun memilih diam. Percakapan kami
selanjutnya di atas sampan adalah bagian lain yang ingin kuceritakan. Aku
mengagumi otak Marine yang encer. Ia baru 4 bulan di Makassar namun mampu
menguasai bahasa Indonesia dengan cepat. Bukan bahasa Indonesia yang sesuai EYD
melainkan bahasa Indonesia versi Makassar. Dan ini tentu saja hasil didikan
Ryan sebagai mahasiswanya di kampus sekaligus yang selalu membawanya ke
mana-mana.
Ada suara burung di atas ketinggian di
atas kepala kami dan sesuatu yang berbau harum. Kata Pak Kepala Dusun, bau
harum itu berasal dari sarang sejenis burung. Marine bertanya padaku apa nama
binatang sejenis little lamp yang terbang. Ia bertanya sambil
menggerak-gerakkan jemarinya. Jika ia ingin bertanya sesuatu padaku, ia
mencampur antara bahasa Indonesia dan Inggris. Aku sama sekali tidak mengerti
bahasa Prancis kecuali merci dan Je t’aime. Aku segera mengerti
bahwa yang ia maksud adalah kunang-kunang alias fireflies.
Seketika aku sadar ia baru saja
menyaksikan kunang-kunang. Dan kunang-kunang di tengah pekat malam adalah
bagian lain yang kami nikmati selama dalam perjalanan. Masya Allah indahnya!
Aku tercengang menyaksikan mereka bergerombol di atas pohon di sisi kami. Di
tengah pekat malam, pohon itu menjadi sangat terang oleh kerlap-kerlipnya.
Pohon kunang-kunang! Hampir semua pohon yang kami lewati memiliki gemerlap
indah itu.
“It’s like a magic tree,” kata
Marine.
“Seperti pohon natal,” aku menimpali.
“Iya, seperti pohon natal ya.”
Keindahan itu membuat kengerian kami
hilang. Tak lagi kami risaukan sampan kecil ini yang tampaknya hanya dengan
sebuah jari kelingking akan terbalik seketika. Dalam hati aku berharap
perjalanan kami masih jauh agar kami bisa berlama-lama menikmati keindahan
pohon kunang-kunang.
Saat kami tiba di jembatan tempat kami
harus turun dari sampan, dalam hati aku berjanji untuk datang kembali suatu
hari nanti. Dan kami semua sudah sepakat untuk datang lagi dengan membawa tenda
dan bekal yang cukup.
Sampan kami tiba lebih awal. “Tabe’,” kata
Marine sambil berdiri mendahuluiku turun dari sampan.
Ismi dan Rian kemudian, Ryan dan Zul
paling belakang. Kaki Zul keram akibat betis yang diikat dengan kain untuk
mencegah darahnya terlalu banyak mengalir. Ryan menggendong Zul turun dari
sampan. Dan kami tertawa-tawa menyaksikan. Bagaimana tidak, tubuh Ryan jauh
lebih kecil ketimbang Zul. Ryan mengomel karena mengira Zul hanya mengerjainya.
Kami menuju rumah Pak Kepala Dusun untuk
mengambil sepeda motor dan kembali ke Makassar. Dusun Rammang-rammang di
Kabupaten Maros tidak terlalu jauh dari Makassar. Kuperkirakan tidak sampai 80
kilometer.
Makassar, 19 Februari 2012





