Breaking News
Loading...
May 2, 2012

Peppe-peppeka ri Makkah, Tarian Para Wali Saat Syiar Islam di Makassar


Para penari Peppe-peppeka ri Makka membakar penonton 

Peppe-peppeka ri Makkah
Lenteraya ri Madinah
Tarumbasai
Natakabbere Dunia
(Cahaya di Mekah
Lentera di Madinah
Bersinarlah
Dan dunia pun bertakbir)
Itulah potongan bait dalam sebuah lagu, yang mengalun sementara sekelompok pria duduk berjejer. Kepala mereka tertunduk, mata terpejam dan mulut berkomat-kamit membaca doa. Semuanya berjumlah 4 orang. Salah seorang dari mereka memegang 5 buah sumbu berukuran sekitar 20 centimeter. Sumbu tersebut terbuat dari kain dan ujungnya telah dilumuri dengan minyak.
Penari Peppe-peppeka ri Makkah
Usai berdoa, sang ketua kelompok membakar sumbu-sumbu tersebut dengan sebuah korek api. Api pun berkobar-kobar. Minyak membuat api dengan mudah menjilati sumbu-sumbu kain tersebut. Saat semua sumbu telah menyala, mereka serentak berdiri.
Keempat lelaki tersebut mulai melakukan atraksi tarian. Mereka membuat gerakan-gerakan memutar seperti lingkaran. Badan bergoyang-goyang dan kaki-kaki mereka membuat hentakan-hentakan seirama di lantai. Di belakang penari,  duduk berjejer para pemusik. Mereka memukul gendang dan menggesek biola dengan penuh semangat mengiringi penari-penari itu. Lagu-lagu yang berisi puji-pujian kepada Allah mereka lantunkan dengan suara merdu.
Para penari terus melakukan gerakan memutar sambil bergoyang-goyang mengikuti irama musik. Hentakan kaki mereka seirama dengan hentakan gendang. Sambil menari, mereka mengusapkan api ke tubuh masing-masjing. Ke kulit, kepala, dan kain sarung yang mereka kenakan masing-masing. Mulut mereka terus berkomat-kamit mengucap doa. salah seorang penari memasukkan kobaran api ke dalam topi yang dikenakannya, lalu kemudian memasang kembali topi tersebut di kepalanya.
Ajaib. Mereka sama sekali tak terbakar bahkan seperti tak merasakan panas sama sekali. Bahkan kain-kain yang mereka kenakan pun sama sekali tidak terbakar ketika tersentuh kobaran api dari sumbu-sumbu tersebut. Para penari itu juga saling menyentuhkan api ke pakaian yang dikenakan oleh teman-teman mereka.
Para penonton duduk dengan rapi mengelilingi para penari dan pemusik di keempat sisi. Mereka menyaksikan dengan tegang. Tak ada penonton yang mengeluarkan suara. Yang terdengar hanya alunan lagu dan musik. Saat itu malam telah larut, hampir tengah malam.  Di tengah pertunjukan, penari menarik beberapa penonton ke tengah pentas. Tangan direntangkan dan api diusapkan ke tubuh mereka.
Seperti inilah atraksi tari Peppe-peppeka ri Makkah, salah satu tarian unik yang terdapat di Sulawesi Selatan. Meskipun disebut sebagai tarian khas Sulsel, namun sesungguhnya tarian ini hanya mampu dimainkan oleh para penari yang tergabung dalam komunitas seni budaya di kelurahan Paropo, Makassar. Tarian seperti ini tak dijumpai di daerah lainnya di Sulsel bahkan di Indonesia.
Penari Peppe-peppeka ri Makkah 
Salah seorang penari, Muhammad Sahir Daeng Sitaba menceritakan awal mula munculnya tarian ini di Paropo. Menurut dia tarian ini dibawa oleh para wali dari tanah suci Mekah ketika mereka melakukan syiar agama Islam di Kabupaten Gowa. “Karena itulah, tarian ini dinamakan Peppe-peppeka ri Makkah,” jelas Sahir. Ia mengungkapkan, Peppe-peppeka ri Makkah artinya cahaya di Mekah, yang juga bisa diartikan sebagai cahaya Islam.
Ketika para wali datang ke Gowa, Paropo merupakan salah satu daerah yang menjadi basis syiar Islam yang mereka lakukan. Ketika itu, Paropo masih menjadi salah satu bagian wilayah kabupaten Gowa sebelum berpisah dan bergabung dengan makassar.
Lebih jauh Sahir menceritakan,  pada jaman dahulu para wali menyebarkan agama Islam melalui seni, dan salah satunya dengan tarian Peppe-peppeka ri Makkah. Mereka menarik perhatian orang-orang dengan tarian tersebut. Lewat tarian ini, para Wali ingin menyampaikan ajaran Islam dan kebenaran yang terkandung dalam kitab Al-quran. Salah satunya adalah surat Ibrahim.
Nabi Ibrahim adalah salah satu nabi umat Islam yang memiliki mukjizat tak bisa terbakar api. Suatu ketika ia dibakar oleh kaum kafir, namun api tak sedikit pun membuat kulitnya lecet Keajaiban surat Ibrahim tersebutlah yang digunakan oleh para penari Peppe-peppeka ri Makkah saat bermain-main dengan api. Saat melakukan atraksi tarian, surat tersebut yang mereka baca sebagai doa agar tidak terbakar, dengan sebuah keyakinan bahwa doa-doa yang mereka lantunkan tersebut mampu menyelamatkan mereka dari panas api.
Pemusik yang Mengiringi Penari Peppe-peppeka ri Makkah 
Sahir pun menjelaskan bahwa sebenarnya, dalam melakukan syiar Islam melalui seni seperti yang diterapkan di Paropo, para wali juga melakukan di daerah lainnya. Hanya saja, daerah lain tidak ada yang berupaya melestarikan tarian tersebut. “Hanya kami di Paropo yang terus menjaga tarian ini sampai sekarang,” katanya. Alhasil, tarian ini pun tak bisa dijumpai di daerah lain selain Paropo.
Para penari di Paropo telah berkeliling daerah mementaskan tarian ini. Bahkan mereka pernah mementaskan di luar negeri speerti Malaysia, Singapura, dan Amerika. Ketua Sanggar Remaja Paropo, sanggar yang menaungi para penari ini, Jumkkara mengatakan salah satu impian yang ingin mereka wujudkan adalah melakukan pentas di daerah asal tarian ini yakni, tanah Suci Mekah.
Bahkan di daerah asalnya tersebut pun, tarian ini tak bisa lagi dijumpai. Pada tahun 1990-an, ketika mereka melakukan atraksi di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), seorang yang berasal dari Mekah menawarkan mereka untuk melakukan pentas di sana. Sayangnya, mereka hanya meminta 6 orang penari. “Akhirnya kami tolak, karena kami sama-sama ingin pentas di sana,” ungkapnya.
Tarian Peppe-peppeka ri Makkah telah mendarah daging bagi warga Paropo. Pada umumnya, mereka yang memiliki bakat memainkan tarian ini adalah masih generasi dari penari sebelumnya. Mereka tak pernah mencari generasi penerus, karena bakat-bakat itu selalu muncul di wajah kanak-kanak anak cucu mereka. Karena itu, ketika melakukan atraksi, penonton yang mereka tarik ke tengah pentas adalah anak-anak. Salah satu tujuannya adalah untuk menemukan anak-anak yang punya bakat untuk menjadi generasi penerus tarian ini. (*)

Newer Post
Previous
This is the last post.

Disqus Shortname

Comments system

Back To Top