Misteri Beringin Kembar Alun-alun Selatan Keraton Yogyakarta
Ada dua buah pohon beringin besar
yang tumbuh kokoh di tengah sebuah lapangan yang sangat luas. Keduanya tumbuh
berdampingan, dan masing-masing dipagari dengan tembok bercat krem. Krem atau
putih, entahlah. Tidak terlalu jelas karena saya melihatnya pada malam hari.
Jarak antara kedua pohon tersebut sekitar 5 meter.
Ketika kau berdiri beberapa meter
dari kedua pohon tersebut, lalu berjalan ke sana dengan mata tertutup, sebuah
keajaiban bila kau mampu berjalan ke sana, dan bisa tiba di antara celah kedua
pohon tanpa meleset. Tampaknya memang sangat mudah. Bahkan berjalan dengan mata
tertutup sambil jongkok, tampaknya mudah. Tapi nyatanya tidak demikian. Tidak
semudah itu. Kerena ketika kau mulai melangkahkan kaki, seperti ada sebuah
kekuatan mistis yang menarikmu untuk berbelok ke arah lain, kiri atau kanan.
Tanah lapang ini, disebut sebagai
Alun-alun Selatan, karena letaknya tepat berada di depan gerbang Selatan
Keraton Yogyakarta. Tempat ini sangat ramai pada sore menjelang malam hari.
Bukan hanya oleh para pendatang yang ingin duduk beralas tikar di tepi
alun-alun sambil menikmati penganan khas jogja, atau bersantai dengan sepeda
yang dihiasi dengan lampu warna-warni. Salah satu tujuan utama mereka adalah
untuk mencoba hal yang satu ini.
Bagi yang tidak membawa kain atau
sesuatu yang bisa digunakan untuk menutup mata, di tepi alun-alun terdapat
tempat penyewaan kain hitam seharga Rp 4 ribu. Pak Jumadi, seorang pemandu yang
mengikuti ke sana-ke mari sambil menawarkan penutup mata berwarna hitam
menjelaskan tentang pohon beringin kembar itu kepada saya.
Konon, ketika seseorang mampu
berjalan ke celah kedua pohon tersebut dengan mata tertutup, lalu ia
membisikkan keinginannya, niscaya semua cita-citanya akan tercapai. Saya tertawa
dalam hati. Mana mungkin? Terlepas dari sejarah apa pun yang membentuk kedua
pohon tersebut, saya tidak percaya. Sepanjang hidup, saya percaya bahwa
beringin adalah pohon tempat bersemayamnya segala macam hantu. Karena itu, saya
lebih percaya bahwa cita-cita bisa terkabul dengan berdoa kepada Tuhan
ketimbang memohon-mohon di bawah pohon beringin.
Pak Jumadi berkata bahwa tidak semua
orang yang mencoba bisa melakukannya. Ia menawarkan saya untuk mencoba sambil
melambai-lambaikan penutup mata berwarna hitam di depan muka saya. Saya berkata
ingin melihat yang lain dulu sebelum mencobanya dan ia mempersilahkan. Saya
mulai memperhatikan orang-orang yang mencobanya terlebih dahulu. Mereka
melenceng kiri-kanan dan hampir tidak ada yang berhasil.
Dua orang gadis remaja berdiri di
sisi kami. Salah seorang membantu temannya memasang penutup mata. Setelah
selesai, ia memberi aba-aba agar temannya mulai melangkah. Gadis yang
mengenakan penutup mata mulai berjalan dan temannya mengikuti dari belakang
tanpa bersuara. Keduanya berdiri lurus dengan kedua pohon beringin itu dengan
jarak sekitar 10 meter. Saya memperhatikan dengan seksama saat ia mulai
berjalan.
Yang terjadi kemudian, ia memang
berjalan lurus. Tapi tidak lurus ke depan, ke arah kedua pohon tersebut, melainkan
melenceng jauh ke sisi sebelah kiri. Saat ia sudah berjalan terlalu jauh,
temannya memberi aba-aba untuk berhenti. Ia membuka penutup mata dan
terperanjat dengan sendirinya saat menyadari ia malah berjalan menjauhi pohon.
“Kok bisa?” ucapnya bingung.
Saya bertanya apa yang ia rasakan
saat mulai berjalan. Ia berkata, rasa-rasanya jalannya lurus-lurus saja ke arah
pohon. Ia sama sekali tidak merasa bahwa ia berbelok ke arah kiri.
Saya akhirnya meminta penutup mata
itu kepada Pak Jumadi. Bukan untuk berdoa sambil berjalan ke arah pohon itu,
melainkan karena penasaran semata. “Jalan lurus ke depan,” bisik Pak Jumadi
usai menutup mata. Saya mulai melangkah dengan ragu-ragu. Segalanya gelap, dan
saya khawatir akan menginjak atau tersandung sesuatu. Saya menunggu dengan
tidak sabar aba-aba berhenti dari Pak Jumadi. Ia memberikannya sekitar 5 menit
kemudian. Saya membuka penutup mata dan memandang ke sekeliling. Sial! Kedua
pohon itu malah berada jauh di sisi kanan saya. Seperti halnya gadis yang saya
perhatikan tadi, saya berbelok ke kiri. Padahal selama berjalan saya sangat
yakin bahwa saya berjalan lurus ke depan.
Pak Jumadi menawarkan saya untuk
mengulangi. Katanya, bisa diulang sampai 3 kali. Kalau sudah 3 kali dan tetap
tidak berhasil, artinya apa yang dicita-citakan tidak akan berhasil. Hal ini
sama saja dengan salat, kata dia. Ketika kita berkonsentrasi, maka kita akan
mampu melaksanakannya dengan khusyuk. Demikian halnya dengan cita-cita dan
impian. “Cita-cita dan impian tidak akan berhasil tanpa konsentrasi dan usaha
keras,” katanya.
Usai menutup mata saya untuk kedua
kalinya, ia berbisik di telinga saya agar saya berkonsentrasi dengan tujuan dan
jangan takut tersandung sesuatu. Rupanya tadi ia tahu bahwa saya melangkah
dengan ragu-ragu.
Pada kesempatan kedua, saya
memantapkan hati melangkah ke depan. Saya melangkah dengan lebih cepat tanpa
ragu sedikit pun. Dan karena saya takut doa yang saya ucapkan sambil melangkah
akan membuat saya jadi musyrik, saya menyelipkan nama Tuhan. “Dear God, my Lord, take me to France
someday. Please, please!!!” Saya mengucapkannya puluhan kali dan dengan
mantap saya yakin bahwa saya akan mampu mencapai tujuan, tepat di antara kedua
pohon tersebut, di bawah rindang dedaunannya.
Pak Jumadi memberikan aba-aba
‘stop!’ saat kaki saya tersandung sesuatu. Rupanya itu sebuah batu. Saya
membuka penutup mata dan memandang berkeliling. Kedua pohon ajaib itu ada di
sisi kiri dan kanan saya.
“Cita-cita saya akan tercapai?”
tanya saya pada Pak Jumadi. Ia mengiyakan. Katanya sudah banyak yang terbukti.
Entah bukti bagaimana, ia tidak menjelaskan. Barangkali ia hanya mengarang
cerita, entahlah. Ia lalu menjelaskan sejarah kedua pohon itu kepada saya.
Dulu, kedua pohon ini dijadikan
sebagai ajang untuk menguji calon abdi dalem yang ingin mengabdikan diri di
Keraton Yogyakarta. Yang bisa lulus hanyalah yang bisa mencapai celah pohon
dengan mata tertutup. Yang tidak berhasil jauh lebih banyak ketimbang yang
berhasil. Konon, yang bisa melewati kedua pohon tersebut hanyalah orang-orang yang
berhati bersih dan lurus.
Mitos lain mengatakan bahwa ketika
ada orang yang berhasil melewati celah pohon dengan cara yang curang, maka ia
akan dihantui hal-hal gaib, atau terjebak dalam dunia tak kasat mata. Umur
kedua pohon tersebut telah ratusan tahun. Sulur-sulur panjang dan besar
menjuntai dari atas ketinggian dahan dan meliliti batangnya. Meskipun banyak
yang mencoba melakukan tantangan ini pada siang hari, namun melakukannya pada
malam hari dianggap lebih menantang karena suasananya lebih mencekam.
Jogjakarta, 8 Juni 20